GAMBARAN LINGKUNGAN DAN VEKTOR DEMAM BERDARAH DENGUE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TEMANGGUNG TAHUN 2017

Widya Hary Cahyati, Jauharotusf Syifa Kusrah Sanjani

Abstract


Cases of DHF in Temanggung District had increased from 2014 - 2016 and the DHF insidence rate was in the top three of the highest level in Central Java. The aim of this research is to describe the environmental and vector of Dengue Hemorrhagic Fever in DHF Case in Temanggung Primary Health Center Working Area.This is a descriptive research with an observational analytic approach. Samples of this research are 48 DHF cases with simple random sampling, while the mosquito samples were taken by spot surveytechniques. The instruments which used in this research are measurement and observation sheets, and questionnaire sheets. The data analysis is shown in the form of frequency table.The result showed that the average of physical environment consist of temperatures around 24.3-27.2oC, 73-94% of humidity, and 0-67mm of rainfall. The most type of water reservoirs was bathtubs, and it is located mostly in the house. The biological environment showed that there are 38 houses with the match criteria of trees (shady trees with at least 5 meters of height and full of leaves yet ≤ 100 meters away from sample’s house), additionally there is no bush with the match criteria (a clump of trees with the maximum height of 2 meters, ≥ 2 meters wide, yet ≤ 100 meters away from sample’s house). The social environment showed that the category of DHF knowledge was mostly in the moderate category, the category of action respondents also showed that they mostly not supporting the prevention of DHF, and the density of occupancy was not dense. The most dominantis of mosquito was Aedes aegypti. This research’s recommendation is to conduct the integrated vector control which involve all components in Temanggung Primary Health Center Working Area.

Keywords


DHF; Environment; Vector.

Full Text:

PDF

References


Anwar, C., Lavita, R.A., & Handayani, D. (2014). Identifikasi dan Distribusi Nyamuk Aedes sp. Sebagai Vektor Penyakit Demam Berdarah Dengue di Beberapa Daerah di Sumatera Selatan. MKS, 46(2), 111–117.

Azizah, G., Betty, R. . (2010). Analisis Faktor Risiko Kejadian Demam Berdarah Dengue di Desa Mojosongo Kabupaten Boyolali. Eksplanasi, 5(2), 1–9.

Cahyati, W.H., S. (2006). Dinamika Aedes aegypti sebagai Vektor Penyakit. Jurnal Kemas, 2(1), 38–48.

Candra, A. (2010). Demam Berdarah Dengue: Epidemiologi, Patogenesis, dan Faktor Risiko Penularan. Aspirator, 2(2), 110–119.

Djati, A.P., Rahayujati, B., & Raharto, S. (2010). Faktor Risiko Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Wonosari Kabupaten Gunung Kidul Provinsi DIY Tahun 2010. Prosiding Seminar Nasional Kesehatan, 1–16.

Fadilla, Z., Hadi, U.K., & Setiyaningsih, S. (2015). Bioekologi Vektor Demam Berdarah Dengue (DBD) serta Deteksi Virus Dengue pada Aedes aegypti (Linnaeus) dan Ae. albopictus (Skuse) (Diptera: Culicidae) di Kelurahan endemik DBD Bantarjati, Kota Bogor. Jurnal Entomologi Indonesia, 12(1), 31–38.

Ginanjar, G. (2008). Apa yang Dokter Anda Tidak Katakan tentang Demam Berdarah. PT. Bentang Pustaka.

Hadi, U.K., Soviana, S., & Gunandini, D.D. (2012). Aktivitas Nokturnal Vektor Demam Berdarah Dengue di Beberapa Daerah di Indonesia. Jurnal Entomologi Indonesia, 9(1), 1–6.

Hikmawati I. (2012). Analisis Surveilens Vektor, Lingkungan Fisik, dan Perilaku pada Epidemi Demam Berdarah Dengue (DBD) di Desa Bojongsari Kecamatan Kembaran. Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Kedokteran, 15(3), 18–24.

Ipa, M., Lasut, D., Yuliiasih, Y., & Delia, T. (2009). Gambaran Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Masyarakat serta Hubungannya dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Pangandaran Kabupaten Ciamis. Aspirator, 1(1), 16–21.

Kementerian Kesehatan RI. (2013). Buku Saku Pengendalian Demam Berdarah Dengue untuk Pengelola Program DBD Puskesmas. Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Lagu, A.M., Damayati, D.S., & Wardiman, M. (2017). Hubungan Jumlah Penghuni, Jumlah Tempat Penampungan Air dan Pelaksanaan 3M Plus dengan Keberadaan Jentik Nyamuk Aedes sp di Kelurahan Balleangin Kecamatan Balocci Kabupaten Pangkep. Higiene, 3(1), 22–29.

Lutfiana, M., Winarni, T., Zulmiati., & Novarizqi, L. (2012). Survei Jentik Sebagai Deteksi Dini Penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) Berbasis Masyarakat dan Berkelanjutan. Jurnal Ilmiah Mahasiswa, 2(1), 56–63.

Minanda, R. K. (2012). Studi Kasus Hubungan Kondisi Iklim dengan Kejadian DBD di Kota Semarang Tahun 2002 2011. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 1(2), 1039–1046.

Ridha, M. R., Fadilly, A., & Rosvita, N. A. (2017). Aktivitas nokturnal Aedes (stegomyia) aegypti dan Aedes (stegomyia) albopictus di berbagai daerah di Kalimantan. Journal of Health Epidemiology and Communicable Diseases, 3(2), 50–55. https://doi.org/10.22435/jhecds.v3i2.1715

Rosa, E. (2009). Jenis – Jenis Nyamuk yang Tertangkap di Pekon Way Mengaku Kecamatan Balik Bukit Kabupaten Lampung Barat. J.Sains MIPA, 15(2), 135–140.

Santhi, N.M.M., Darmadi, I G.W., & Aryasih, I. (2014). Pengaruh Pengetahuan dan Sikap Masyarakat tentang DBD terhadap Aktivitas Pemberantasan Sarang Nyamuk di Desa Dalung Kecamatan Kuta Utara Tahun 2012. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 4(2), 152–155.

Sari, P., Martini., & Ginanjar, P. (2012). Hubungan Kepadatan Jentik Aedes sp dan Praktik PSN dengan Kejadian DBD di Sekolah Tingkat Dasar di Kota Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 1(2), 413–422.

Setyobudi, A. (2011). Faktor – Faktor yang Berhubungan dengan Keberadaan Jentik Nyamuk di Daerah Endemik DBD di Kelurahan Sananwetan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar. Peran Kesehatan Masyarakat Dalam Pencapaian MDG’s Di Indonesia, 273–281.

Simson. (2017). Perilaku Ibu Rumah Tangga dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue. Wawasan Kesehatan, 3(2), 40–50.

Sucipto, P.T., Raharjo, M., & N. (2015). Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Jenis Serotipe Virus Dengue di Kabupaten Semarang. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, 14(2), 51–56.

Syahribulan., Biu, F.M., & Hassan, M.S. (2012). Waktu Aktivitas Menghisap Darah Nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus di Desa Pa’lanassang Kelurahan Barombong Makassar Sulawesi Selatan. Jurnal Ekologi Kesehatan, 11(4), 306–314.

Trovancia, G., Sorisi, A., & Tuda, J. (2016). Deteksi Transmisi Virus Dengue pada Nyamuk Wild Aedes aegypti Betina di Kota Manado. Jurnal E-Biomedik, 4(2), 1–5.

Wulandari, K., & Ahyanti, M. (2018). Efektivitas Ekstrak Biji Bintaro (Cerbera manghas) sebagai Larvasida Hayati pada Larva Aedes aegypti Instar III. Jurnal Kesehatan, 9(2), 218–224.

Yulianto, B., & F. (2013). Faktor – Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Puskesmas Selatpanjang Kabupaten Kepulauan Meranti. Jurnal Kesehatan Komunitas, 2(3), 113–116.

Yusnita, E. (2008). Faktor-faktor Perilaku yang Berhubungan dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Desa Balung Lor Kecamatan Balung Kabupaten Jember. Universitas Jember.

Zubaidah, T. (2012). Dampak Perubahan Iklim terhadap Kejadian Penyakit Demam Berdarah Dengue di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan Selama Tahun 2005-2010. Jurnal Epidemiologi Dan Penyakit Bersumber Binatang, 4(2), 59–65.




DOI: http://dx.doi.org/10.33366/jc.v8i1.1124

Article metrics

Abstract views : 420 | views : 204

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2020 Care : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan

Creative Commons License
Care :Jurnal Ilmiah Ilmu kesehatan by https://jurnal.unitri.ac.id/index.php/care is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

View My Stats